Gili Iyang, yang terletak di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, merupakan destinasi wisata unik yang dinobatkan sebagai pulau dengan kadar oksigen terbaik kedua di dunia. Dengan kadar oksigen mencapai
20,9%−21,5%20 comma 9 % minus 21 comma 5 %
20,9%−21,5%
dan tingkat kebisingan rendah, pulau ini dikenal sebagai tempat wisata kesehatan untuk relaksasi dan awet muda.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Gili Iyang:
- Pulau Oksigen: Penelitian LAPAN menunjukkan kadar oksigen di Gili Iyang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata permukaan bumi, bahkan pada malam hari mencapai 21% lebih.
- Aksesibilitas: Dapat dijangkau dari Pelabuhan Dungkek di ujung timur Pulau Madura dengan perahu motor atau taksi laut, menempuh waktu sekitar 30-40 menit.
- Daya Tarik Wisata:
- Pantai Bayeman dan Rupa-rupa: Keindahan pantai dengan karang dan air jernih.
- Gua Air: Terdapat gua-gua alami yang bisa dijelajahi.
- Wisata Kesehatan: Aktivitas seperti snorkeling dan diving, serta udara bersih yang diyakini menyegarkan tubuh.
- Budaya dan Penduduk: Pulau ini terdiri dari dua desa (Bancamara dan Banraas) dengan populasi sekitar 7.000 jiwa yang terkenal awet muda dan bugar.
- Fasilitas: Sudah tersedia homestay dan layanan terapi kesehatan, menjadikan Gili Iyang tempat yang tepat untuk healing atau wisata kebugaran.
Gili Iyang adalah destinasi yang sempurna bagi mereka yang mencari ketenangan dan udara bersih, berbeda dengan destinasi wisata umum pada umumnya.
Berapa luas gili iyang?
Pulau Giliyang terbagi menjadi dua desa, yaitu Desa Bancamara dan Desa Banra'as. Gili yang dalam bahasa setempat artinya pulau, memiliki luas sebesar 9,15 km2 dan didiami oleh 7.832 jiwa yang menghuni dua desa, yakni Bancamara dan Banraas.
Perjalanan dari Surabaya ke Pulau Gili Iyang (Sumenep, Madura)
menempuh waktu sekitar 4-5 jam berkendara ke Pelabuhan Kalianget, dilanjutkan penyeberangan kapal (sekitar 1 jam) menuju pulau yang terkenal dengan kadar oksigen tertinggi ke-2 di dunia ini. Pastikan menyeberang saat cuaca cerah karena kapal yang tersedia adalah perahu rakyat.
Berikut rincian rute perjalanan:
- Rute Darat (Surabaya - Sumenep): Berkendara melalui Jembatan Suramadu menuju Kota Sumenep, lalu menuju Pelabuhan Kalianget. Waktu tempuh darat sekitar 3.5 hingga 4 jam.
- Rute Laut (Kalianget - Gili Iyang): Dari Pelabuhan Kalianget, gunakan kapal rakyat atau sewa perahu motor. Penyeberangan menuju Pelabuhan Dungkek atau langsung ke titik wisata Gili Iyang memakan waktu sekitar 1 jam.
- Transportasi: Disarankan membawa kendaraan pribadi atau sewa hingga Pelabuhan Kalianget karena akses di Madura lebih mudah dengan kendaraan pribadi.
Wisata utama di pulau ini meliputi penjelajahan gua alami seperti Goa Mahakarya dan Goa Syukur, tebing pantai menakjubkan seperti Tebing Kembar dan Batu Canggah, serta menikmati pantai berpasir putih.
Berikut adalah daftar tempat dan aktivitas wisata di Gili Iyang:
- Titik Oksigen (Oxygen Spot): Tempat utama untuk menikmati udara bersih dan segar, sering digunakan untuk terapi kesehatan.
- Batu Canggah: Tebing unik di pinggir laut yang menjorok, populer sebagai spot foto ikonik dan menikmati pemandangan laut.
- Goa Mahakarya & Goa Syukur: Gua-gua alami yang memiliki formasi stalaktit dan stalagmit yang indah.
- Tebing Kembar: Tebing tinggi di tepi pantai yang menawarkan pemandangan laut lepas yang memukau.
- Pantai Pasir Putih: Wisata bahari untuk bersantai, berenang, atau snorkeling.
- Aktivitas Santai: Bersepeda mengelilingi pulau dan mencicipi kuliner khas Madura.
Gili Iyang menawarkan suasana tenang dan alami, menjadikannya destinasi yang ideal untuk penyegaran fisik dan pikiran.
Penduduk asli di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Madura, umumnya merupakan komunitas Madura yang diyakini keturunan dari penjelajah awal, salah satunya Daeng Masalle dari Makassar yang tiba sekitar awal abad ke-19. Pulau ini dikenal sebagai tempat tinggal bagi sekitar 4.500 warga dengan angka harapan hidup tinggi, yang tersebar di dua desa, yaitu Desa Banraas dan Desa Cepakek.
Berikut adalah poin-poin mengenai penduduk asli Gili Iyang:
- Asal Usul: Menurut cerita rakyat setempat, pulau ini mulai dihuni pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1811-1854) oleh keluarga pelaut, termasuk Daeng Masalle yang pertama kali mendarat di kawasan pantai Leguna, yang kini dikenal sebagai Desa Banraas.
- Budaya & Bahasa: Meskipun ada sejarah keterlibatan tokoh dari Makassar, secara kultural dan bahasa, penduduk asli saat ini telah menyatu dengan kebudayaan Madura.
- Kehidupan: Penduduk setempat hidup berdampingan dengan alam, di mana banyak penduduk yang mencapai usia lanjut (lebih dari 90-100 tahun) karena kualitas udara yang sangat baik (oksigen tertinggi kedua di dunia).
- Desa: Dua desa utama yang dihuni oleh penduduk lokal adalah Desa Banraas dan Desa Cepakek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep.
Penduduk Gili Iyang dikenal ramah dan menjaga kearifan lokal, terutama terkait kebersihan lingkungan untuk mempertahankan kualitas udara yang segar.
Penduduk asli di Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Madura, umumnya memiliki mata pencaharian utama yang berkaitan dengan potensi pesisir dan lahan pertanian
. Berdasarkan data, pekerjaan penduduk asli Gili Iyang meliputi:
- Nelayan: Sebagai pulau kecil, mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan tradisional yang memanfaatkan hasil laut di sekitar pulau.
- Petani: Sebagian penduduk juga bekerja di sektor pertanian, mengelola lahan kering atau kebun di sekitar pemukiman.
- Pelaku Usaha Wisata (Pemandu/Pengelola): Seiring berkembangnya Gili Iyang sebagai destinasi wisata kesehatan (pulau oksigen), banyak penduduk asli yang kini terlibat dalam pengelolaan wisata, seperti menjadi pemandu, pengemudi ojek, atau penyedia homestay.
- Wiraswasta/Perdagangan: Beberapa penduduk juga bergerak di sektor perdagangan lokal dan industri kecil, memanfaatkan potensi ekonomi yang tumbuh akibat pariwisata.
Sebagai wilayah berpenduduk, pulau ini didukung oleh lembaga pendidikan dasar dan menengah formal seperti PAUD, SD, dan sekolah lanjutan yang umumnya dikelola di bawah naungan KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) Kecamatan Dungkek untuk memastikan kelangsungan pendidikan penduduk lokal.
- Pendidikan Dasar: Terdapat Sekolah Dasar (SD) yang melayani anak-anak di Desa Bancamara dan Banra'as.
- PAUD: Pendidikan Anak Usia Dini tersedia sebagai tahap awal pendidikan.
- Pendidikan Menengah: Terdapat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) di wilayah Kecamatan Dungkek/Gili Iyang untuk kelanjutan studi.
Pengelolaan pendidikan di area tersebut berkoordinasi dengan K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) Dungkek
Penginapan di Gili Iyang, Sumenep (Pulau Oksigen), umumnya berupa
homestay yang dikelola warga lokal untuk pengalaman menginap yang autentik. Pilihan utamanya adalah Nyamanna Homestay (terdaftar di Jadesta Kemenparekraf) dengan fasilitas dasar seperti kipas angin dan kamar mandi bersama, serta beberapa penginapan sederhana lain di sekitar area desa wisata.
- Nyamanna Homestay: Menawarkan kamar sederhana dengan fasilitas kipas angin, sarapan pagi, dan musholla. Sangat cocok untuk wisatawan yang ingin berinteraksi dengan warga lokal.
- Penginapan Warga Lainnya: Terdapat beberapa homestay atau rumah warga yang disewakan di dekat lokasi titik oksigen tinggi.
- Harga: Harga umumnya sangat terjangkau, berkisar antara ratusan ribu rupiah per malam.
Disarankan untuk melakukan pemesanan atau menghubungi pemandu lokal (Desa Wisata Gili Iyang) sebelum berkunjung untuk memastikan ketersediaan tempat, terutama saat akhir pekan atau hari libur.
Secara umum, tidak ada mobil di Pulau Gili Iyang, Sumenep. Gili Iyang dikenal sebagai "Pulau Oksigen" dengan kadar oksigen tertinggi kedua di dunia, sehingga pulau ini berusaha menjaga kualitas udara dengan meminimalisir kendaraan berbahan bakar fosil.
Berikut detail transportasi di Gili Iyang:
- Sepeda Motor: Masih ditemukan beberapa sepeda motor milik warga lokal, namun jumlahnya terbatas dan bukan alat transportasi utama bagi wisatawan.
- Transportasi Wisata: Wisatawan disarankan menggunakan kendaraan ramah lingkungan atau transportasi tradisional yang disediakan, seperti sepeda kayuh atau terkadang penyewaan motor listrik.
- Alternatif: Cara terbaik menikmati Gili Iyang adalah dengan berjalan kaki, menyewa sepeda, atau menggunakan jasa ojek motor setempat jika diperlukan untuk jarak jauh.
Karena fokus pulau ini adalah kesehatan dan udara bersih, penggunaan kendaraan bermotor konvensional sangat tidak disarankan.
Harga sembako di Gili Iyang, Sumenep,
cenderung lebih tinggi dibandingkan daratan Madura. Hal ini disebabkan oleh biaya transportasi logistik laut. Meskipun tidak ada daftar spesifik, barang pokok seperti beras, minyak, dan bumbu umumnya naik karena faktor fluktuasi permintaan dan biaya pengiriman ke pulau terpencil tersebut.
- Penyebab Kenaikan: Ketergantungan pada pengiriman antar-pulau.
- Kondisi Umum: Harga bersifat fluktuatif, sering kali mengalami kenaikan saat permintaan tinggi atau cuaca buruk.
Disarankan untuk membawa perbekalan cukup jika berkunjung ke lokasi tersebut.
Mayoritas penduduk di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Madura, beragama
Islam.
Sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, kehidupan masyarakat Gili Iyang kental dengan nuansa religius, di mana Islam menjadi agama utama dan budaya lokal sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keislaman.
Berikut adalah poin-poin terkait sosial-keagamaan di Gili Iyang:
- Identitas Islam yang Kuat: Penduduk Madura, termasuk di pulau-pulau kecil seperti Gili Iyang, dikenal religius.
- Tokoh Masyarakat: Masyarakat setempat sering merujuk pada tokoh "pembabad" atau tokoh agama setempat dalam struktur sosialnya.
- Budaya Lokal: Penduduk, termasuk kalangan lanjut usia, menganut norma sosial dan agama Islam dengan erat.
Selain kadar oksigen tinggi, Gili Iyang di Sumenep sangat populer karena julukannya sebagai "
Pulau Awet Muda", pemandangan eksotis Pantai Ropet yang jernih untuk snorkeling, serta Gua Mahakarya yang memiliki stalaktit dan stalagmit bercahaya. Pulau ini juga menawarkan suasana tenang tanpa polusi kendaraan, cocok untuk relaksasi.
Berikut adalah daya tarik populer lainnya di Gili Iyang:
- Pantai Ropet: Terkenal dengan tebing karang, gazebo santai, dan air laut super jernih, menjadikannya spot terbaik untuk snorkeling melihat terumbu karang dan matahari terbit.
- Gua Mahakarya (Gua Air): Gua dengan keunikan stalaktit dan stalagmit flowstone (batu alir) yang berkilau, bahkan beberapa bagiannya mengeluarkan bunyi nada khas jika diketuk.
- Wisata Kesehatan & Relaksasi: Atmosfer pulau yang sangat tenang, minim kendaraan bermotor, dan rendah polusi menjadikannya tempat populer untuk terapi pernapasan alami.
- Spot Foto Estetik: Terdapat area khusus untuk swafoto (selfie) dan wahana outbound sederhana yang dirancang untuk wisatawan.
Gili Iyang sering dijuluki "Pulau Awet Muda" karena penduduk setempat terkenal panjang umur, beraktivitas seperti biasa di usia senja, dan didukung oleh udara yang berkualitas sangat baik.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta catatan sejarah, wilayah Kabupaten Sumenep, termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti
Gili Iyang, termasuk kawasan yang memiliki risiko gempa dan potensi tsunami di Madura.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait risiko tsunami di Gili Iyang:
- Jalur Sesar Aktif: Sumenep dilintasi jalur sumber gempa sesar aktif yang memiliki tingkat aktivitas kegempaan cukup tinggi.
- Catatan Sejarah: Sumenep memiliki catatan sejarah gempa merusak dan tsunami, antara lain tsunami pada tahun 1820, 1843, dan 1889.
- Kondisi Geologis: Sebagai pulau kecil di utara Sumenep, Gili Iyang rentan terhadap ancaman pasang laut tinggi maupun tsunami yang dipicu oleh gempa teknonik di wilayah tersebut.
Rekomendasi:
Warga dan wisatawan di Gili Iyang disarankan untuk tetap waspada, mengenali
jalur evakuasi, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG terkait cuaca dan
potensi bencana gempa bumi. Meskipun memiliki potensi risiko, hal ini bukan
berarti tsunami akan terjadi setiap saat.
Ketersediaan air tawar di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Madura, tergolong
cukup tersedia secara alami, berbeda dengan beberapa pulau kecil lain yang sering mengalami krisis air bersih.
Berikut adalah poin-poin mengenai kondisi air tawar di Gili Iyang:
- Sumber Air Alami: Gili Iyang memiliki sumber air tawar alami, salah satunya yang terkenal terdapat di dalam gua, seperti Goa Air yang memiliki kedalaman 150 meter.
- Keunikan Geologis: Meskipun merupakan pulau kecil yang dikelilingi laut, pulau ini memiliki cadangan air tanah tawar, yang kemungkinan didukung oleh struktur geologis (gua karst) yang mampu menyimpan air bersih.
- Upaya Pemerintah: Pemerintah Kabupaten Sumenep juga telah berupaya meningkatkan sarana dan prasarana di pulau ini, termasuk program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui pipanisasi untuk menjamin kebutuhan air warga dan wisatawan, terutama saat musim kemarau.
- Potensi Wisata: Kualitas perairan dan sumber daya air di sekitar Pulau Gili Iyang masih tergolong baik dan mendukung pengembangan wisata, termasuk wisata kesehatan.
Secara umum, masyarakat setempat tidak kesulitan mendapatkan air tawar untuk kebutuhan sehari-hari.
Rumah penduduk di Gili Iyang, Sumenep, umumnya merupakan perpaduan antara hunian tradisional Madura dan bangunan modern sederhana. Sebagai pulau yang terkenal dengan kadar oksigen terbaik, nuansa hunian di sana masih sangat asri dan sederhana
.
Berikut adalah bahan bangunan dan karakteristik rumah penduduk di Gili Iyang:
- Bahan Utama (Tembok): Banyak rumah penduduk sudah permanen atau semi-permanen, menggunakan bahan bata merah, batako, atau semen, khas bangunan di pedesaan Madura.
- Atap: Umumnya menggunakan atap genteng tanah liat atau seng. Beberapa rumah yang lebih tradisional atau rumah tambahan (seperti dapur/kandang) mungkin masih menggunakan atap rumbia atau bahan alam, namun mayoritas sudah permanen.
- Struktur Tradisional (Tanean Lanjhang): Beberapa hunian masih mengikuti pola Tanean Lanjhang (halaman panjang), di mana beberapa rumah keluarga berderet dalam satu area. Ini mencerminkan budaya kekeluargaan yang erat.
- Bangunan Ramah Lingkungan: Seiring dengan pengembangan Gili Iyang sebagai tujuan wisata kesehatan, ada upaya penguatan budaya rumah yang ramah lingkungan dan nyaman, yang selaras dengan kualitas udara bersih di pulau tersebut.
- Kondisi Fisik: Rumah-rumah di Gili Iyang cenderung sederhana dan menyatu dengan alam, tidak banyak bangunan bertingkat tinggi, sehingga menjaga estetika pulau sebagai area konservasi alam dan kesehatan.
Secara keseluruhan, pemukiman di Gili Iyang didominasi oleh bangunan bata permanen atau semi-permanen dengan atap genteng, mencerminkan kehidupan masyarakat yang bersahaja namun fungsional.
Gili Iyang memiliki sejarah yang kaya terkait penyebaran Islam, dan tokoh utama yang dikenal sebagai pembabat atau pendiri awal daerah tersebut adalah seorang ulama besar.
Meskipun sumber-sumber yang tersedia tidak secara spesifik menyebutkan banyak nama ulama kontemporer yang sangat terkenal secara nasional dari Gili Iyang saja, namun ada beberapa tokoh yang tercatat berperan penting dalam sejarah dan kehidupan keagamaan di wilayah tersebut dan daerah sekitarnya:
- Andang Taruna: Beliau dikenal dalam puji-pujian masyarakat setempat sebagai sosok yang memulai peradaban di Gili Iyang dan merupakan seorang ulama besar.
- Kiai Hasanuddin: Beliau adalah salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam di daerah Pulau Giligenting, yang secara geografis berdekatan, dan dikenal sebagai ulama panutan yang alim.
- Kiai-kiai Setempat (Hafidz Al-Qur'an): Pulau Gili Iyang juga dikenal memiliki tradisi kuat dalam menjaga manuskrip Al-Qur'an kuno (dikenal sebagai "Al-Qur'an se Jimat") dan dihuni oleh ulama-ulama setempat, termasuk yang hafal 30 juz Al-Qur'an (Hafidz).
Secara umum, ulama-ulama besar Madura seperti Syaikhona Kholil Bangkalan memiliki pengaruh yang menjangkau seluruh pulau, termasuk Gili Iyang, dan banyak kiai di Madura merupakan keturunan atau murid dari ulama-ulama besar tersebut.
Tips Berkunjung ke Gili Iyang
1. Datang pagi hari
2. Bawa air minum dan sunblock
3. Pakai alas kaki nyaman
4. Siapkan uang tunai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.