Rabu, 04 Februari 2026

KISAH Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso


 

KISAH Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso

 

1. Identitas Dasar

Nama lengkap: Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso
Tempat, tanggal lahir: Pekalongan, Jawa Tengah – 14 Oktober 1921
Wafat: Jakarta, 14 Juli 2004
Agama: Islam

Hoegeng dikenal sebagai simbol kejujuran dan integritas di Indonesia—bahkan lintas generasi.

2. Istri Keturunan Belanda

Hoegeng menikah dengan Merry Hoegeng, yang memiliki darah Belanda–Indonesia (Indo).
Fakta penting soal keluarganya:

  • Hidup sederhana, meski Hoegeng menjabat posisi sangat tinggi
  • Istrinya sering diceritakan menolak fasilitas berlebihan
  • Mereka tidak menumpuk kekayaan selama Hoegeng berkuasa

Bahkan setelah pensiun, kehidupan Hoegeng tergolong pas-pasan untuk ukuran mantan Kapolri.

3. Jabatan dan Karier Kepolisian

Puncak karier Hoegeng:

  • Kapolri ke-5
  • Menjabat: 1968 – 1971 (era awal Orde Baru)

Sebelumnya ia juga pernah:

  • Kepala Jawatan Imigrasi
  • Menteri Iuran Negara (setingkat menteri)

4. Prinsip Hidup Hoegeng

Sering dikutip oleh Gus Dur, Rocky Gerung, dan banyak tokoh nasional lain.

Prinsip paling terkenal:

“Lebih baik saya tidak menjabat, daripada menjabat tapi tidak jujur.”

Nilai utama Hoegeng:

  • Tidak bisa disuap
  • Tidak kompromi dengan korupsi
  • Hukum harus sama untuk semua
  • Jabatan adalah amanah, bukan ladang uang

Gus Dur pernah bilang (maknanya):

Di Indonesia cuma ada tiga polisi jujur: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Rocky Gerung sering menjadikan Hoegeng contoh etika publik, bahwa:

Integritas itu bukan slogan, tapi kebiasaan sehari-hari.

5. Kisah Penting Selama Menjabat Kapolri

a. Membongkar Kasus Penyelundupan Besar

Hoegeng berani membongkar kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan:

  • Pengusaha besar
  • Oknum militer dan elite

Padahal tekanan politiknya sangat kuat.

b. Tidak Takut Kekuasaan

Ia menolak intervensi penguasa, termasuk dari orang-orang dekat lingkar kekuasaan Orde Baru.

Akibatnya:

  • Ia tidak disukai elite
  • Kariernya dipangkas
  • Akhirnya diberhentikan lebih cepat dari jabatan Kapolri

6. Keputusan Paling Menonjol

Beberapa keputusan yang membuat namanya abadi:

1.         Menindak penyelundupan tanpa pandang bulu

2.      Menolak “telepon sakti” dari pejabat

3.      Tidak memperkaya diri atau keluarga

4.      Menjaga independensi Polri, meski akhirnya harus “tersingkir”

Hoegeng lebih memilih kehilangan jabatan daripada kehilangan prinsip.

7. Jasa Hoegeng bagi Negara

  • Menjadi teladan moral aparatur negara
  • Membuktikan bahwa pejabat jujur itu mungkin
  • Menjadi standar etika Polri (meski belum selalu tercapai)
  • Namanya dijadikan:
    • Patron integritas
    • Rujukan pendidikan antikorupsi
    • Simbol “polisi ideal”

8. Warisan Terbesar Hoegeng

Bukan gedung.
Bukan kekayaan.
Tapi nama baik yang tetap bersih puluhan tahun setelah wafat.

Di Indonesia, itu langka.

Cerita kisah-kisah kecil tapi menyentuh

(misalnya soal uang belanja rumah tangga Hoegeng)

1. Uang Belanja yang Selalu Kurang

Saat Hoegeng menjabat Kapolri, uang belanja rumah tangga yang ia berikan ke istrinya sering pas-pasan.

Suatu hari, istrinya (Merry Hoegeng) pernah mengeluh dengan nada bercanda:

“Pak, kok uang belanja kita selalu kurang ya?”

Hoegeng menjawab tenang:

“Kalau kurang, ya berarti memang segitu yang halal buat kita.”

Tidak ada:

  • “tambahan”
  • “bonus”
  • “uang terima kasih”

Padahal kesempatan ada di depan mata setiap hari.

2. Istri Kapolri Naik Angkot

Ini kisah yang sering bikin orang tercekat.

Istri Kapolri:

  • Naik angkutan umum
  • Belanja sendiri ke pasar
  • Tidak punya sopir tetap

Ketika ada yang heran:

“Ibu kan istri Kapolri, kok begini?”

Jawaban sederhananya:

“Kalau bisa jalan sendiri, kenapa harus merepotkan negara?”

Bayangin: istri pejabat tertinggi polisi, tapi hidup seperti warga biasa.

3. Menolak Hadiah Kecil Sekalipun

Hoegeng tidak membedakan besar atau kecilnya suap.

Pernah ada tamu yang datang membawa:

  • Parcel
  • Bingkisan
  • Oleh-oleh

Hoegeng menolak dengan halus, atau menyuruh ajudannya mengembalikan.

Alasannya sederhana:

“Kalau diterima sekarang, besok orang akan minta balasan.”

4. Anak-anak Hoegeng Hidup Biasa

Anak-anak Hoegeng:

  • Sekolah tanpa fasilitas khusus
  • Tidak pakai pengawalan
  • Tidak pamer jabatan ayahnya

Hoegeng melarang keras anaknya berkata:

“Ayah saya Kapolri.”

Menurutnya:

“Jabatan itu sementara, karakter itu selamanya.”

5. Setelah Pensiun: Hidup Sangat Sederhana

Ini bagian yang paling menyentuh.

Setelah tidak menjabat:

  • Tidak punya tabungan besar
  • Tidak punya rumah mewah
  • Tidak punya bisnis

Bahkan untuk kebutuhan tertentu, keluarganya harus berhitung dengan cermat.

Tapi Hoegeng tidak pernah menyesal.

Ia pernah berkata (maknanya):

“Saya mungkin tidak kaya uang, tapi saya kaya kehormatan.”

6. Gus Dur dan “Polisi Jujur”

Gus Dur sering menceritakan Hoegeng bukan dengan nada marah, tapi sedih dan kagum.

Karena Hoegeng adalah bukti:

  • Orang jujur benar-benar ada
  • Tapi sering tidak cocok dengan sistem yang kotor

7. Kenapa Kisah-kisah Kecil Ini Penting

Karena:

  • Kejujuran diuji di dapur, bukan di podium
  • Integritas terlihat saat tak ada yang melihat
  • Moral bukan slogan, tapi kebiasaan sehari-hari

Hoegeng lulus di situ.

Cerita paling pahit ketika ia dicopot

Hoegeng tidak pernah diberhentikan secara kasar.
Ia dipindahkan dengan rapi, dengan bahasa halus khas kekuasaan.

Tahun 1971, tiba-tiba muncul keputusan:

Hoegeng diganti dari jabatan Kapolri
tanpa penjelasan terbuka ke publik

Tidak ada:

  • evaluasi kinerja terbuka
  • kasus pelanggaran
  • skandal pribadi

Padahal publik masih percaya padanya.

Penyebab Sebenarnya (yang Tak Pernah Ditulis Resmi)

1. Terlalu Jujur untuk Sistem

Hoegeng:

  • membongkar penyelundupan besar
  • menyentuh kepentingan orang kuat
  • menolak telepon elite

2. Tidak Mau “Berbagi”

Ini pahit tapi nyata.

Banyak pejabat saat itu:

  • menganggap jabatan sebagai sumber rente
  • ada “jatah” yang tak tertulis

Hoegeng memutus aliran itu.

Akibatnya:

ia tidak punya kawan di lingkar kekuasaan

Momen yang Sangat Menyentuh

Saat tahu dirinya akan diganti, Hoegeng tidak melawan.

Ia hanya berkata (diceritakan keluarganya):

“Kalau saya dipertahankan tapi harus ikut arus, itu bukan saya.”

Tidak ada:

  • manuver politik
  • curhat ke pers
  • drama publik

Ia pulang ke rumah seperti biasa.

Reaksi Keluarga

Istrinya sempat khawatir:

  • ekonomi keluarga
  • masa depan anak-anak

Hoegeng menenangkan:

“Kita tidak kaya, tapi kita bersih. Itu cukup.”

Kalimat ini sering dikutip karena jujur dan getir sekaligus.

Setelah Dicopot: Sunyi

Ini bagian yang paling pahit,

Setelah tidak menjabat:

  • telepon berhenti berdering
  • tamu menghilang
  • undangan hilang

Orang-orang yang dulu ramah:

tak lagi muncul

Hoegeng pernah berkata dengan senyum tipis:

“Dulu banyak teman. Sekarang tinggal yang benar-benar teman.”

Tidak Ada Penyesalan

Yang mengejutkan:
Hoegeng tidak pernah berkata menyesal.

Ia justru berkata:

“Kalau saya ulang hidup saya, saya akan tetap memilih jalan yang sama.”

Ini bukan heroisme kosong.
Ini kesadaran penuh.

Ironi Terbesar

Negara:

  • kehilangan pejabat jujur
  • tapi sistem tetap berjalan

Hoegeng:

  • kehilangan jabatan
  • tapi menang secara moral

Dan sejarah akhirnya berpihak padanya.

 

Kenapa Kisah Ini Masih Relevan

Karena di Indonesia:

  • orang jujur sering dipinggirkan
  • bukan karena salah
  • tapi karena tidak bisa diajak kompromi

Hoegeng adalah cermin pahit itu.

 

Cerita momen terakhir Hoegeng sebelum wafat

Hari-hari Terakhir: Tenang dan Bersahaja

Menjelang wafatnya pada 14 Juli 2004, Hoegeng sudah lanjut usia dan kondisi fisiknya menurun.
Tapi secara batin, orang-orang yang menemuinya bilang: ia tenang.

Tidak ada:

  • kemarahan
  • kekecewaan
  • dendam pada negara

Yang ada justru kejernihan.

 

Tidak Sibuk Membela Diri

Di usia senja, Hoegeng tidak sibuk mengulang-ulang jasanya.
Ia tidak menulis pembelaan diri.
Tidak mencari pengakuan.

Ketika ada yang berkata:

“Pak, Bapak itu polisi paling jujur di Indonesia.”

Hoegeng hanya tersenyum, lalu menjawab sederhana:

“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya.”

Kalimat ini khas Hoegeng:
tidak dramatis, tapi menghantam nurani.

 

Kesadaran Akan Hidupnya

Menurut keluarga dan orang dekatnya, Hoegeng sadar betul bahwa hidupnya:

  • tidak kaya
  • tidak berkuasa lagi
  • tapi bersih

Ia pernah mengatakan (maknanya):

“Nama baik itu lebih lama umurnya daripada jabatan.”

Seolah ia tahu, sejarah akan lebih adil daripada zamannya.

 

Meninggal Tanpa Kemewahan

Saat wafat:

  • Tidak ada prosesi mewah
  • Tidak ada harta berlimpah yang ditinggalkan
  • Tidak ada warisan kekayaan

Yang tersisa:

  • nama baik
  • cerita tentang integritas
  • keteladanan

Ironisnya, justru setelah wafat:

semakin banyak orang menyebut namanya
semakin banyak generasi muda mengenalnya

Saat hidup, ia sunyi.
Setelah wafat, ia berbicara lewat teladan.

 

Reaksi Publik: Terlambat Tapi Tulus

Banyak tokoh nasional menyatakan:

  • rasa hormat
  • rasa malu
  • rasa kehilangan

Karena bangsa ini:

baru benar-benar menghargai Hoegeng setelah ia tiada

Itu pahit, tapi nyata.

 

Makna Terakhir dari Hoegeng

Hoegeng wafat tanpa meninggalkan kekayaan,
tapi meninggalkan standar moral.

Dan itu jauh lebih berat.

 

Penutup yang Menggetarkan

Kalau dirangkum dalam satu kalimat, hidup Hoegeng seperti ini:

Ia kalah dalam politik,
tapi menang dalam sejarah.